Selasa, 21 Februari 2012

H Santosa Doellah 45 Tahun Perjalanan Mengeksplorasi Batik

45 Tahun Perjalanan Mengeksplorasi Batik
H Santosa Doellah--MIFedinand/cs
Jauh sebelum batik dicintai publik seantero negeri, Santosa Doellah telah merintis eksistensinya di kalangan kelas menengah. Pada perjalanannya, batik kemudian mewabah hingga ke akar rumput.

Bagi Santosa Doellah, pemilik perusahaan batik Danar Hadi, Februari ini merupakan bulan istimewa. Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menganugerahkan gelar empu bagi pengusaha yang juga mendirikan museum batik itu.

Rektor ISI Surakarta T Slamet Suparno menuturkan gelar setara guru besar itu diberikan lantaran Santosa dinilai konsisten melestarikan dan mengembangkan batik. Hingga di usianya kini, 71 tahun, Santosa terus melahirkan beragam motif baru untuk memperkaya khazanah batik Tanah Air, khususnya Surakarta.

"Saya sendiri lupa berapa motif yang telah saya lahirkan, begitu pula nama-namanya. Saya tidak pernah mencatat dan mendaftarkannya," kata Santosa saat ditemui Media Indonesia di House of Danar Hadi, Surakarta, Senin (20/2).

Namun, menurut catatan ISI Surakarta, tak kurang dari 300 motif telah dihasilkan laki-laki yang selalu bersemangat ketika membahas batik itu.

"Idenya bisa datang dari mana saja, mulai mengeksplorasi motif tradisi yang telah lebih dulu ada sampai segala sesuatu yang terdapat di lingkungan sekitar semisal tumbuh-tumbuhan dan hewan. Pokoknya apa saja yang bisa dijadikan motif akan dilekatkan di atas kain batik," ujar Santosa.

Santosa mengaku proses eksplorasinya pada batik bagaikan air mengalir, terus dan tanpa henti. Tidak sekadar membuat motif, Santosa pun menemukan teknik membatik baru, antara lain teknik cabutan dan eksplorasi teknik remukan. Ia juga memperkenalkan teknik pewarnaan yang kemudian melahirkan genre batik wonogiren pada era 1967-1970.

Usia 15 tahun
Batik memang telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan Santosa. Ia menekuninya sejak usia 15 tahun. Sang kakek dan nenek dari pihak ibu, Wongsodinomo, yang mengajari dia. Pasangan pengusaha batik di kawasan Singosaren, Surakarta, itu menjadi guru pertama yang mengajari Sentosa tentang teknik, filosofis, dan bisnis batik.

Santosa pernah menimba ilmu di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran Bandung. Namun, rupanya batik betul-betul telah menambat hatinya, hingga akhirnya ia memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah dan pulang ke Surakarta untuk merintis usaha di bidang batik.

Setelah menikah dengan Danarsih yang memberinya empat buah hati, Santosa mendirikan usaha batik sendiri pada 1967. Awalnya usaha tersebut berupa industri rumahan dengan 20 orang pembatik.

Saat itu nama yang dipakai bukan Danar Hadi. Nama yang juga digunakan sebagai merek dagang hingga sekarang tersebut baru digunakan sekitar 1968. Itu sebuah nama yang sekaligus menjadi monumen cinta Santosa kepada istrinya karena Danar Hadi merupakan kependekan nama Danarsih Hadipriyono.

"Saya sangat menghormatinya," kata dia. Ternyata, keberuntungan Santosa memang di situ. Usahanya berkembang pesat. Pada 1975 ia bahkan sudah bisa membuka rumah batik Danar Hadi di Jalan Raden Saleh, Jakarta. Ekspansi besar-besaran ia lakukan pada 1976-1979 dengan membuka rumah-rumah batik di Bandung, Surabaya, Semarang, Medan, dan Yogyakarta.

Disusul kemudian mendirikan berbagai perusahaan pendukung, mulai pemintalan benang hingga garmen. Danar Hadi menjadi salah satu nama besar di dunia batik jauh sebelum popularitas kain tradisional itu meledak pada era 2000-an. (M-2)

Ferdinand, ferdinan@mediaindonesia.com

0 komentar:

Posting Komentar